Showing posts with label traveling. Show all posts
Showing posts with label traveling. Show all posts

Tuesday, 11 December 2018

Review : Gammara Hotel Makassar



Well terakhir saya review hotel di Melia, sekarang saya akan membahas tentang Hotel Gammara yang sudah launching sekitar 2 tahun terakhir. Berada di daerah tanjung yang satu kawasan dengan Trans Studio Mall membuat hotel ini memiliki kesan mewah.

Kesan pertama begitu kita memasuki pekarangan akan terlihat asri dengan banyaknya tumbuh pepohonan yang sedang berbunga. Sedangkan begitu memasuki area lobby maka ada kesan yang luas dan ramah.



Begitu tiba di kamar, kesannya malah biasa saja seperti hotel pada umumnya saja. Terutama untuk toiletnya tidak ada pispotnya sehingga yang buang air kecil apalagi air besar akan merasa kerepotan ditambah nyala airnya cenderung loyo. Hahaha. Untuk kelengkapan mandinya sangat lengkap, karena ada juga hair dryer nya. Di Makassar jarang ada hotel yang memilikinya sekelas bintang 4. Sayangnya handuknya cenderung bau malah.

Dari segi restaurant untuk penyajian makan paginya cukup banyak alternatif makanan, itulah kenapa saya suka nginap di hotel dan mengambil paket breakfastnya karena ingin merasakan menu makanannya. Kita juga bisa memilih di dalam ruangan breakfastnya atau diluar dengan pemandangan menuju kolam renang. Sayang kemarin tidak sempat berenang.

Sekian review saya tentang Gammara Hotel.




Friday, 7 December 2018

Solo Traveling VS Group Traveling




Bagi kalian yang suka jalan lebih memilih Traveling sendiri atau harus ikutan Group? Yuk simak pengalaman saya berikut ini.


1. Solo Traveling

Kalau kalian tipe Introvert seperti saya, traveling sendiri bukan masalah yang besar. Baiklah mulai dari segi baiknya dulu saya ceritakan, enaknya adalah kita bisa merencanakan perjalanan kita sendiri tanpa harus bingung dan mengikuti tur orang lain. Bayangin aja kita sudah atur waktu dan ternyata ada teman kita yang molor. Bete kan? Dengan solo traveling kita bebas menentukan waktunya tanpa terikat dengan orang lain, bisa lebih lama ataupun cepat dari perkiraan untuk berada disuatu tempat. Nih satu hal yang bikin saya agak kurang nyaman, adalah berbagi kasur dengan beberapa orang. Maklum saya kalau tidur kurang nyantai juga caranya apalagi kalau capek ya kali ngigau ataupun ngorok. Hahaha.. 

Sekilas itu enaknya dari Solo Traveling, berikutnya kita bahas tentang Group Traveling.


2. Group Traveling

Jangan pikir karena saya seorang introvert maka saya tidak pernah melakukan perjalanan bersama orang banyak atau yang disebut group traveling. Bahkan saya pernah bawa tour dengan jumlah 100 orang karena pada saat itu saya sebagai tour leader disebuah travel agent di usia masih cukup muda sekitar 19 Tahun. Enaknya dalam perjalanan group adalah kita bisa mendapat alternatif perjalanan apalagi kalau mereka punya tujuan beda-beda, kita bisa mengikuti tujuan mereka tanpa takut boring dengan tema liburan mereka. Nah untuk urusan makanan dengan group traveling pastinya orang berbeda selera sehingga kita pasti akan memilih makanan yang "aman". Berfotopun bisa bergantian karena ada temannya, asal jangan jalan ama teman yang bawaannya bentar-bentar pengen di foto bakal repot juga ya. Menurutku sih

Itulah pembahasan seputar enaknya Solo Traveling dan Group Ttaveling

Friday, 9 November 2018

Traveling : TravelokaPay


Seiring dengan tingkat stress yang tinggi dan perlu diimbangi dengan berbagai macam hiburan, maka hanya dengan ponsel pintar kita dapat memulainya. Seperti contoh, hiburan adalah liburan dan ini berlaku buat saya. 

Liburan bukan satu hal yang mutlak, tapi kalau sudah mulai jenuh dengan rutinitas maka saya mulai mencari hotel, penerbangan, bahkan keduanya untuk melakukan suatu perjalanan. Liburan juga bukan suatu paksaan mesti yang bermewah-mewah, intinya kan untuk melepaskan kejenuhan dan refreshing. Dan sekarang Traveloka meluncurkan, satu kemudahan untuk penyuka traveling seperti saya dengan tambahan pilihan TravelokaPay yang bisa bayar nanti. 

Program TravelokaPay ini sangat membantu buat yang kita suka traveling lho, dengan limit Rp. 2.000.000 menurut saya ini sudah sangat cukup dan pilihan pembayarannya bisa kita sesuaikan 3 bulan, 6 bulan dan 12 bulan. Kalian tinggal memilih sesuai kesanggupan. Biar gak ada beban pada saat liburan, sebaiknya setelah lunasi baru kita berangkat. Biar benar-benar fresh setelah itu, jangan pas balik dari liburan malah mikirin hutang.. hahahaha..

So buat kalian yang pakai Traveloka tapi belum menggunakan TravelokaPay segera daftar aja, gak sampai 30 menit prosesnya dan bisa langsung digunakan. 

Sunday, 21 October 2018

Journey : Sultan Hasanuddin International Airport


Ada yang punya cerita sama seperti saya, berangkat dengan flight subuh dan mesti jalan ke bandara mesti tengah malam? kalau iya kita tos dulu deh. 

Ini first time berangkat dengan waktu yang super gak nyantai, sebelumnya paling banter flight jam 5 subuh dari Jakarta dan itupun ada yang anterin (pacar), kalau sekarang malah mesti sendiri, cukup mandiri untuk ukuran cewek. 

Cocokin jam tidur biasanya dan mesti berangkat ke bandara itu rasanya badan ama mata gak sinkron deh. Badan minta untuk move dari tempat tidur tapi mata masih pengen merem aja. Belum lagi mesti ijin ke orang rumah, karena banguninnya itu. Pada bangun semua yang ada mereka. 

Pas sampai bandara, langsung masuk untuk ambil boarding pass. Sebelumnya sudah lihat alat ini cuma dilewatin aja, dan sekarang cobain check in mandiri dan langsung tercetak boarding pass nya. Jadi yang buru-buru dan tidak ada bagasi bisa langsung aja daripada mesti ke counter. Ini bukan pertama kali juga saya menggunakan check in mandiri, sebelumnya pas di Jakarta terminal 3. Alat ini juga mudah banget difungsikan, buat yang first time cobain pasti langsung ngerti. 

Dari semua yang saya ceritakan diatas, ini merupakan tugas kedua saya ke Ambon. 

Review : The City Hotel Ambon


Ini kali kedua saya ke Ambon dalam sebulan terakhir, tapi ini masih tetap dalam rangka kerjaan juga kok. Sayangnya tidak pakai acara jalan-jalan, karena aku terlanjur capek dan ngantuk dikarenakan berangkat jam 3 pagi, itupun jam 1 dini hari sudah otw bandara.






Karena ini kali kedua seperti yang di ceritakan seperti di atas, maka saya memilih hotel ala koper. Paham kan ya yang ala koper seperti apa, yang sedikit high end lah. Jadi saya memilih The City Hotel Ambon. Pas pertama kali ke Ambon sudah sempat searching dan lihat hotel ini sangat ramai dari depan jalan dan juga bangunannya cukup terasa etnik dari awal karena sepintas kayak di tutupin kayu.


Ini hotel yang baru di opening ada than 2017 jadi masih cukup baru. Dan terjadi drama yang kurang mengasyikan karena hotel ini full booked sampai 4 hard ke dean. Sudah cek di travelog, Agoda, pegi-pegi, tripadvisor, booking.com mash nihilism juga. Hari sebelumnya pun sudah hubungi ke hotelnyapun lagi full. It’s ok, I’m not lucky but the last call at hotel for the day finally I got room. Very happy.


Ok diantar sampai disana sama orang kantor, dan proses check in pun juga cukup cepat. Sampai dikamar langsung beberes mandi terus tidur, nyatanya tidurpun tidak terlalu lama. Pagi harinya saya sarapan di lantai 7, disini baru kelihatan view sebenarnya. Karena dari kamar saya di lantai 3 jelas viewnya masih sepantaran dengan rumah warga, jadinya gak ada pemandangan menarik.




Untuk dari segi makanannya cukup variatif, untuk ukuran hotel yang bintang 3 malah makanan khasnya disitu tidak tersedia, apa karena tamunya yang kebanyakan juga bule jadi mereka menyesuaikan. I think so.


Kekurangannya : Pas kemarin sudah mandi ternyata handuknya tidak ada, alhasil pakai baju yang sebelumnya dipakai. Kelupaan mungkin ya.

Overall untuk The City Hotel Ambon dapat nilai 7 lah.




Tuesday, 2 October 2018

Review : Melia Hotel Makassar




Horeeeeeee... Satu lagi hotel yang berbintang empat di Makassar yang saya tempati, Gran Amelia Makassar. Akses ke Melia Hotel sangat dekat dari Mall Ratu Indah, dan enaknya lagi dekat dari Grin & Pull tempat nongkrong yang ngehits akhir-akhir ini. 

Pertama kali masuk di lobby, langsung tercium bau hotel wangi yang menurut saya itu menandakan bahwa hotelnya sangat memperhatikan estetika. Harga Publish di Premium Room 800rban dan kalian bisa mendapatkan reward berupa poin untuk digunakan berikutnya. Kamarnya sangat nyaman, untuk ukuran saya yang biasa nginap di hotel. Di lengkapi dengan complimentary membuat saya makin senang di karenakan habis beli roti sebelumnya. hahahaha..


Untuk ukuran hotel bintang empat, fasilitasnya sangat memadai, mulai dari fasilitas penunjang berupa Spa, tempat nge-Gym, dan kolam renang. Dari segi dalam kamar juga tersedia lengkap sampai ada hair dryernya lho. Suka banget deh sama konsepnya, bahkan ada handuk kimono. 


Dari segi makanannya kurang variatif menurut saya untuk ukuran hotel bintang empat, apa karena pernah cobain hotel di Jakarta bintang 3 yang sangat banyak pilihannya. Entahlah..

Sekian review saya "Melia Hotel Makasar"

Monday, 1 October 2018

Review : Kampoeng Nelayan Hotel



Ini dia hotel yang di malam sebelumnya sudah di intai, bahkan sempat bilang kok tuh orang norak banget ya foto malam-malam depan hotel. Gak taunya saya juga kok pas sampai di situ.


Tempatnya teduh banget, cocok nih buat yang mau sedikit menenangkan diri dari hiruk pikuk perkotaan. Letaknya juga pas depan pantai, dan cottage ini cuma tersedia 16 kamar yang terbagi atas 2 view, yang pertama Sea View dan yang kedua Garden view. Sayapun memilih kamar dengan sea view, tapi tenang depannya juga ada garden kok ya walaupun tidak sebanyak di view garden itu. 


Untuk kamar dengan view laut tidak begitu besar, dan ada jendela yang bisa melihat laut dari kejauhan sih. Banyak orang yang berenang di depan hotel, terutama di hari sabtu dan minggu. Di sepanjang jalan ini juga banyak orang yang jualan nasi kuning dan juga putu penja jadi capek berenang bisa mampir makan
 

Review : Jazz Hotel Palu






Sekarang kota Palu sangat berkembang, dari yang terakhir ke Palu sekitar tahun 2010. Banyak bangunan baru, terutama untuk hotel. Karena saya berada di Palu untuk 2 malam, maka saya memilih malam pertama di Jazz Hotel yang terletak di jalan Zebra. Akses  dari Jazz Hotel ke Bandara Sis Aljufri Palu sangat dekat cukup memakan waktu 5-10menit. Jadi Jazz Hotel bisa jadi alternatif untuk kalian yang ingin nginap dekat bandara. 



Jazz Hotel mengusung konsep seperti cottage yang berteras dan cuma ada 2 lantai saja. Kebetulan saya dapatnya di gedung lama, kuncinya masih manual untuk kelas 2 di Palu saya pikir akan pake access card. Kamarpun cukup luas, terdiri dari tempat tidur, AC, Meja Rias, Lemari Pakaian dan ada Meja serta kursi 2 buah.



 
 





Saturday, 15 September 2018

Journey : Ambon 3D2N


Keberangkatan saya ke Ambon sebenarnya dalam rangka tugas kantor. Dan karena disini ada perwakilan kantor, jadi ada yang menemani. Delay sekitar 30 menit dari yang dijadwalkan pada pukul 12.10, bertolak ke Ambon membutuhkan waktu 1 jam 30 menit. 

Tiba di Ambon sekitar jam 15.40, disambut dengan cuaca yang cerah membuat saya merasa beruntung dan perjalanan menuju kantor perwakilan disuguhi dengan pemandangan laut sangat menyegarkan mata teruntuk saya yang suka dengan laut. Perjalanannya sekitar 45menit dengan menggunakan sepeda motor. Setelah sampai, saya prepare untuk kunjungan disalah satu BUMN pada esok harinya. 

 
Karena sudah sangat sore, kami meninggalkan kantor dan melihat penginapan yang akan saya tinggali. Sebenarnya saya sudah booking, tapi teman saya yang tinggal disini, daerah yang ditinggali susah untuk cari makan dan aksesnya ribet karena ada semacam jam malam. Sebelumnya kami makan KFC dulu karena saya cuma sarapan indomie. Kepala sudah sakit saja. 



Penginapan Tiara itulah rekomendasi dari teman. Harganya variatif sekali mulai dari 150K - 230K tergantung dari kalian memilih ada di lantai berapa. Karena saya sudah pengalaman nginap di Ternate yang selantai dengan lobby, rasanya sangat bising sehingga saya memilih untuk berapa di lantai 3. Hitung-hitung bakar kalori nih. hahahaha.

Karena tidak bawa mukenah, saya bertanya petugas lobby tapi sayangnya tidak ada yang punya sehingga mereka memberi tahu Mesjid Raya Al-Fattah yang terdekat. Di jam 18.30 mulai lah ramai dengan berbagai macam dagangan. Mulai dari Nasi Goreng, Terang Bulan, Ketoprak aja ada, sampai ikan bakar yang semacam di Terminal Ternate pun ada. 

Kemudian pada jam 20.00 saya di jemput teman sekedar berkeliling di JMP, yaitu jembatan yang menyerupai suramadu. Apa lagi halu ya aku.. hahahaha.. Disini saya sempatkan foto ala kadarnya. Habisnya rada kayak katrok,padahal mank iya. wkwkwk. 

Untuk hari Pertama cukup, badan lelah banget dan saya memilih untuk tidur. 

Days 2 : 
Karena ke kantor pelanggan sudah selesai, sayapun mengajak teman untuk makan. Dia menyarankan tempat makan seperti prasmanan dekat hotel juga. Disini saya mencoba makan papeda yang ada kacang kenarinya. Ini hal baru buat saya, kalau di makassar namanya Kapurung tapi lebih ke sayur mayur isinya sedangkan di Poso namanya Dwi, kalau ini lebih ke kuah ikan. Dan ikan yang dipakai ikan katombo dan dimasak kuah bening yang rasanya pedas asam. 

Sekitar tengah hari tua, begitu biasa saya menyebutnya kami diajak ke batu kuda. Ini merupakan pantai tempat orang bisa snorkling karena ada karangnya. Sayangnya tidak bisa pergi ke tempat karang itu karena arusnya yang cukup deras ditambah saya masih newbie dalam hal seperti ini. Disini juga tersedia kamar mandi ganti, jadi setelah basah-basahan bisa bilas. Tempat ini dinamakan batu kuda, karena batu yang ada di sekitarnya berbentuk kuda ferrari, i think that.


Rasanya belum puas di batu kuda, tapi karena arus semakin besar kamipun harus beranjak kembali ke kota, namun sebelumnya kami mampir ke Pantai Natsepa. Dimana setiap kios disini menjajakan rujak dan es kelapa muda. Nama semua kios disini di awali dengan nama "Mama" cukup unik dan menarik untuk saya. Pantai Natsepa berwarna hijau muda,ingin rasanya turun mandi lagi tapi kalau tidak mengingat sudah sore dan perjalanan masih 30menit lagi ke arah kota. 

Selepas tiba di kota, sayapun kembali ke penginapan untuk bebersih. Sekitar jam 8 malam, saya memutuskan untuk mencoba ikan bakar sepanjang jalan penginapan. Harga ikan disini bervariasi, mulai dari 40K dan jenis ikanpun variatif. Tergantung selera kalian. Masih ingin makan yang manis, saya pun naik angkot untuk beli terang bulan. Biaya untuk sekali naik angkot 3K. Akhirnya selesai juga kegiatan saya di hari kedua. 


Days 3 : Mengawali hari dengan sedikit malas-malasan dikasur karena hari ini the last day dan akan dijemput sekitar siangan. Packing kembali barang yang sudah di bawa. Rencana hari ini cuma mau ke Pabrik Roti dan Gong Perdamaian. 


Karena cuaca lagi gerimis, dan tidak ada yang menjaga di pintu masuk Gong Perdamaian, akhirnya
saya cuma bisa foto dari jarak jauh setelah itu saya ke Pabrik Roti, dimana yang terkenal adalah roti kaya sayapun membeli 5 bungkus roti kaya  dan 5 bungkus roti isi kacang dan harganya mulai dari 8K-35K.

Karena akan take off jam 18.10 maka saya mampir beli ikan asap atau di Ambon ini di sebut ikan Asar dengan dabu-dabu colo untuk dibawa pulang ke Makassar. 


Sekian perjalanan saya ke Ambon, next kalau ada rejeki pengen eksplore lagi. 

Journey : Rammang Rammang Maros


Finally bisa ke Rammang- Rammang,padahal sebelumnya sudah di planning tapi batal. 

Jadi kami memutuskan untuk menggunakan jasa rental mobil dengan alasan tidak ingin ribet. Kalau dari Bandara Hasanuddin cukup memakan waktu sekitar 30menitan saja dan ada papan penunjuk jalan ke Rammang-Rammang. 

Tiba di Rammang-Rammang kita bisa langsung ke dermaga, nanti akan ada petugas yang mencatat berapa jumlah penumpang dalam perahu dan memberi tahu kita perahu yang mana akan digunakan. Sebelum naik ke perahu, ada topi yang bisa di sewakan. Mengingat disini cukup terik. 


Perjalanan dari dermaga ke Rammang-Rammang, memakan waktu sekitar 20 menit dan kita banyak menemui spot bagus untuk foto. Terkadang yang punya perahu kami minta berhenti agar kami bisa mengambil foto. 


Ternyata disana sangat ramai, kesan seperti pasar terapung sangat terasa karena banyak perahu yang sekedar ingin sandar di dermaga ataupun menunggu tamunya kembali. Begitu sampai kita langsung ke spot pertama foto, dengan pemandangan karst yang tinggi. Kemudian kami memilih untuk pergi ke Goa Berlian. 


Perjalanan menuju Goa Berlian pun cukup jauh, melewati semacam persawahan terlebih dahulu kemudian bebatuan. Itupun setelah sampai di muka goa, kita meski melakukan pendakian yang cukup curam. Sebelumnya kita di wajibkan membayar 5K/Orang untuk naik ke atas goa. Baru sampai di mulut goa sudah merasa ngos-ngosan, soalnya ini tidak seperti di awal kita lihat. Tipsnya kalau mau ke Goa Berlian,menggunakan sepatu kets yang nyaman. Di mulut Goa Berlian, ada bebatuan yang menyerupai anak kecil di gendong, Dinosaurus,Telinga Gajah. Kemudian akan menaiki tangga yang terbuat dari kayu dan di bagian atas dapat melihat batu berlian menurut informasi pemandu. Sayangnya kami tidak naik ke atas, karena ada bule yang mengatakan very hot setelah turun jadinya kami memutuskan untuk tidak naik. Ditambah kami kurang suka tempat yang bikin keringetan. haahahaha. 


Setelah turun dari Goa Berlian, kami memilih minum es kelapa muda. Sangat segar ditambah angin yang cukup kencang. Keringat yang membuat baju basah berangsur kering. Kembali ke Dermaga, kami sempatkan untuk mampir lagi ke Cafe dan Cottage yang Eco Natural. Puas berfoto kami kembali. 



Total waktu kami selama disini sekitar 3 jam. 
Sewa Perahu : 200K/ 1-2 Oranģ 
Sewa Topi : 5K 
Beli Topi : 30K 

Selamat berkunjung dan temukan pengalaman seru ke Rammang-Rammang. 

Tuesday, 21 August 2018

Experience : Nakamura Healing Touch Makassar


Kalau ke sini tidak pernah cukup sejam, pasti ngambil yang 2 jam untuk full badan. Rasanya fresh dan bawaannya pengen tidur aja karena berasa enteng badannya.

Sebelum di pijit biasanya di tensi terlebih dahulu sembari kaki kita di rendam sama air hangat yang sudah di kasih garam. Mulanya di bagian telapak kaki di pijit, betis, tangan baru kemudian bagian belakang (punggung). Paling suka kalau di pijit di bagian belakang karena kebanyakan duduk biasanya rasanya pegel banget sama di wajah juga seperti di totok, muka berasa segar banget dan biasanya pusing di kepala hilang.

Di Nakamura banyak pilihan jenis pijit, ada yang mengkhususkan bagian tertentu semisal wajah, lutut kaku, dan bahu. Pilihan tempatnya juga mulai dari yang biasa hingga berbilik kamar tergantung kebutuhan. Disini juga bisa ganti baju atau celana pendek bagi yang takut nanti bajunya kena minyak jadi gak repot bawa dari rumah. 


Sunday, 19 August 2018

Review : Four Points by Sheraton Makassar



Finally bisa ngerasain ke Four point by Sheraton dan menurut saya untuk ukuran lobby hampir luasnya dengan Hotel Claro hanya saja terbagi dengan sekat-sekat. Di lobby mengingatkan akan nuansa di Ibis Cawang karena ada PC yang disediakan untuk tamu yang ingin berselancar di dunia maya ataupun sekedar mengerjakan tugasnya. 

Type kamar Deluxe sangat luas, tempãt tidurnya sangat sangat suka karena standar hotel bintang yang di pakai jadi lebih tinggi juga empuk. Bikin malas move on dari kasur rasante. Untuk lantainya menggunakan karpet, menurut saya sih kurang bagus karena debu yang menempel *this is my opinion*. Karpetnya di desain khusus karena itu melambangkan logo dari Hotel Four Point by Sheraton sendiri. Dilengkapi dengan semua keperluan mandi, sayang hotel sekelas bintang 4 dikamarnya tidak ada hairdryer tapi bisa kok minta ke house keeping untuk di bawakan. Kolam renangnya juga bagus sangat luas dan terletak di lantai 11, kita bisa menyewa pakaian renang juga.


Untuk segi makanannya, sangat banyak milihan tapi yang saya lihat kebanyakan menu makanan manis, favoritku puding dengan saus coklat dan taburan coklat. Love it. Untuk makanan berat masih cukup vatiatif daripada lainnya.

Lokasi di Jl. A.Jemma No. 130 Makassar, menurut saya strategis karena dekat dengan mall panakukang ataupun mall ratu indah. Jadi buat yang ke Makassar untuk sekesar hangout bisa ke sini. Dan sekitaran hotel juga banyak yang jual makanan sampe malem banget jadi gak bakal takut kelaparan.  Terusnya dapat harga kamar lebih murah pas booking di hotel langsung. So i'm just lucky today. Buat kalian apa yang kalian suka ketika nginap di hotel? Dari segi lokasi, harga, kenyamanan tidur, atau bahkan dari segi makanannya?

Tuesday, 3 July 2018

Journey : Terminal 3 Ultima Bandara Soekarno Hatta














Kejadian ini sudah sejak setahun lamanya tapi baru sekarang ditulis.
Iya sesuai judulnya hilang di bandara. Ini first time nya hilang, karena kalau mau di urutin saya saja yang baru pertama kali ke Jogja gak pakai hilang padahal mesti jalan kaki segala keluar dari bandara karena taxi online gak boleh masuk.


Jadi ceritanya waktu itu di anterin sampai di lantai 3, karena untuk keberangkatan di pintunya dari situ. Pas baru masuk mulai deh kebingungan ini pintunya yang mana. Terus ketemu seorang bapak yang ngaku udah beberapa kali ke sini. Terus ngikutin deh biar gak nyasar. Pertama cek in sendiri di spot yang tersedia karena kebetulan gak ada bagasi. Abis itu mestinya masuk dari turun ke bawah. Sama bapak tadi di bawa ke bawah bagian kedatangan akhirnya mesti naik lift untuk balik ke lantai 3. Lift nya itu rasanya bikin ngeri secara kaca transparan. Karena udah merasa hilang, mencar dari bapak yang tadi itu deh. Dan memutuskan nanya ke petugas yang ada di sana dimana kalau mau ke gate. 

Dijelasin lah mesti ngelewatin pintu detector dulu terus nanti ketemu escalator baru deh turun ke bawah. Oalaaah tau gini kan dari tadi. Karena gate ku adanya di ujung kiri rasanya jauh banget. Nah di lantai 1 ini tidak ada yang jualan makanan, buat yang kelaparan mending makan dulu di lantai 3 baru deh ngelewatin pintu detector itu karena saking luasnya berasa jauh dan pegel.
Ditambah lagi karena kaca transparan untuk seluruh gedung terutama di gate bakal terasa panas karena sinar matahari masuk.

Next time kalau ke Jakarta gak bakal hilang lagi di bandara.

Journey : Bandara Sultan Babullah Ternate

Apa cuma saya yang kadang kurang nyimak informasi yang di bacakan di Bandara? Ya maklum pemikiran saya kan, apa yang tertulis di boarding pass sudah sesuai atau time table yang sering kita liat di layar tv.

Nah ini sedikit berbeda di Bandara Babulah Ternate, jadi disini tidak ada time table dan suara informanya cukup kecil. Sehingga mesti dengar untuk 2x agar kita tau informasi apa. Jadi kita penumpang Sriwijaya sudah cukup gelisah menurut boarding pass,kita akan take off pada pukul 15.55 tapi sampai 16.45 tidak ada kabar. Terus tiba-tiba terdengar suara informan nya, dan yang bikin syok hampir kiri dan kanan saya kurang jelas mendengar flight yang akan di batalkan keberangkatan sampai esok hari. Secara di dalam gate yang tersisa kebanyakan adalah penumpang Sriwijaya. Setelah sempat heboh dan syok akhirnya informasi yang di berikan lebih jelas dan ternyata bukan flight kita. Ampun deh langsung pada ketawa ngakak kita semua. Udah kebayang bakal kemana,makan apa, dll.

Review : The Batik Hotel Ternate


Liburan yang ini sangat dadakan, dan tempatnya juga masih di Ternate. Jadi buat yang mau ke Ternate, untuk hotelnya harus extra seperti yang saya pernah tulis sebelumnya. Kali ini saya nginap di The Batik Hotel. Kesannya kalau liat di iklan websitenya fotonya pada bagus-bagus. Buat yang ekspetasinya kerendahan, baca dulu.



The Batik Hotel baru buka kurang lebih 6 (Enam) bulan terakhir, hotel yang berada di pojokan jalan ini menurut saya strategis karena dekat dengan tempat nongkrong yang tinggal nyebrang sudah ketemu cafe. Belok sedikit udah ketemu Nasi Padang, terus dikit lagi ada Bakso Tembak Senayan.


Untuk tipe kamar standar yang tidak ada viewnya sangat beneran standar versi saya. Ditambah lagi kamarnya sempit, dan kamar mandinya ada selanya dan tidak ada kuncinya ditambah pintu transparan. Bakalan gak nyante buat yang kesini untuk urusan kerjaan dan sekamar berdua.


Untuk makanannya standar bintang 2 dengan harga kamar bintang 4 di Makassar. hahahaha. Pagi tadi makannya lontong sayur ada, orange juice dan roti seperti biasanya. Syukur stafnya pada membantu jadi it's ok lah. Terus kalau Minggu, hotel ini di pakai untuk kebaktian juga jadi akan ramai.





















Review : Citadines Royal Bay Makassar


Hotel Citadines Royal Bay Makassar yang terletak di Jl. Sultan Hasanuddin No. 24 Makassar ini menawarkan sesuatu yang beda . Dengan type kamar Superior sudah bisa dengan pemandangan pantai losari. Ya walaupun agak jauh keliatan tapi masih terlihat landmark dari pantai ini.


Tempat tidur yang empuk, ditambah kamar yang nyaman rasanya bikin betah kita di kamar. Menurut saya ini. Kalau kamar mandinya, terpisah jadi ada 2, yang 1 buat mandi,1 nya toilet buat buang air. Konsepnya hampir sama dengan Ibis Style di Ratulangi. Dan untuk lantai kayu nya membuat nuansa lebih hangat.


Sayangnya kamarnya juga tidak kedap suara, jadi disamping kamar ada suara anak-anak yang lagi nangis kedengaran. Sangat disayangkan untuk hotel sebagus ini. Kolamnya sendiri cukup buat seukuran saya karena mungkin habis dari Four Points by Sheraton lah. Dan untuk restauran tempat breakfast menginatkan saya juga dengan konsep di All Stay Jogjakarta. Menu yang ditawarkan standar seperti hotel pada umumnya. Namun untuk sejenis kue cukup banyak pilihan. 

Sekian review saya