Skip to main content

Tim Selow : Lagi-Lagi Liburan Berubah Arah


Bulan Oktober ini ada libur panjang, sempat hopeless sih awalnya karena Mas Ipoet sepertinya banyak kerjaan sehingga acara kita ketemuan akan tertunda sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Iya emang se-hopeless itu sih kadang, ditambah kalau dia ke sini pasti ada karantina mandiri setelah kembali belum lagi akan dilakukan Swab Test secara random oleh pegawai yang ada disana makanya jadi banyak pertimbangan. Tapi bukan tim selow namanya kalau pada akhirnya gak berangkat 😜

Tim Selow : Liburan Dadakan ke NTT 

Setelah menjemput dia di Bandara, maka kamipun pembicaraan akan pergi kemana keesokan harinya. Ya maklumlah kalau ke sini tuh harus spend time dengan sebaik-baiknya dan emang tipenya harus jalan, gak bisa diam aja. Sesuai rencana versi saya, kami akan pergi ke Hutan Wisata Mangrove Lantebung yang berada tak jauh dari ATKP Untia dan juga akan pergi ke Lappa Laona yang sangat Instagramble menurut saya dan berada di Kab. Barru perbatasan dengan Kab. Soppeng. Sayapun memutuskan untuk mencari mobil beserta sopirnya dikarenakan kami berdua tidak tahu tentang lokasi tempat yang akan di kunjungi terutama untuk menghindari terjadi pertengkaran di antara kami wkwkwkwk 😂


Keesokan paginya, dia cuma whatsapp bilang akan datang jam 7.30 dikarenakan akan ngajak ngopi dulu drivernya. Padahal kami janjian dia datang menjemput jam 7.00 tapi ya sudahlah cuaca juga gak begitu panas pikir ku saat itu. Sesaat setelah jalan, kami berdua mengkonfirmasi untuk pergi ke Hutan Wisata Mangrove Lantebung terlebih dahulu, mengingat jalannya akan kami lewati juga sih. Tapi nyatanya kami sempat kelewat karena ternyata Bapaknya gak tahu lokasinya. Hmmm padahal udah merasa tenang aja, tapi yaudahlah jangan sampai kami mengotori hari itu dengan marah-marah. Akhirnya kami harus putar balik kembali masuk dalam tol. Hufttt 



Dari jalan raya hingga sampai ke Hutan Wisata Mangrove Lantebung ada sekitar 3KM dan jalanan bagus hanya saja agak sempit sehingga kalau ada yang papasan harus ada yang mengalah. Begitu turun dari mobil kami harus jalan, tapi cuma sebentar saja kok dan langsung disambut oleh Hutan Mangrove yang kurang begitu rimbun menurutku. Ya ke sini tuh ekspetasi memang gak gimana-gimana cuma sekedar pengen spend time. Hari itu ada banyak rombongan sepeda yang kesana juga dan ada sepasang kekasih mungkin karena mereka datang juga berdua seperti kami tentunya. 


Kamipun sampai ke spot foto paling ujung yang menjorok ke laut, tapi lagi-lagi kami gak mendapatkan feel nya untuk foto jadi hanya memandang tumbuhan Mangrove sambil sesekali bercerita. Sampai kami putuskan untuk pergi ke spot yang ramai dengan orang yang naik sepeda karena spotnya lumayan rimbun dan lebih bagus tampaknya dan ketika kami berjalan, ada seorang anak remaja yang menyoraki kami berdua ketika jalan dengan mengatakan terasa hampa karena memang dia iri mungkin melihat kami wkwkwkwk 😂 pesan dari kakak mending pikirin belajar aja ya dek . 


Cukup puas dengan situasi yang ramai itu kami pun memutuskan untuk mengambil gambar karena akan melanjutkan ke perjalanan selanjutnya. Namun kami malah terpana dengan Ikan Mud yang cukup banyak muncul dan saya merasa lagi belajar mengenai flora dan fauna dari dia. Terus saya sempat terpana dengan munculnya seekor Ular dengan ukuran sepanjang 30cm sepertinya, hingga sampai membuat saya merinding disko dan segera meminta untuk segera balik ke mobil. Yang cukup mengejutkan kami tidak membayar uang masuk, mungkin karena hari libur sih jadi tidak ada yang menjaga. 


Kembali ke mobil dan perjalanan berganti arah ke Rammang-Rammang saja mengingat itu hari Jumat juga dan dia gak mau perjalanan lebih dari 2jam karena tentu menghabiskan waktu lama di jalan. Ya sudahlah yah, toh ke Rammang Rammang bukan pilihan yang buruk walaupun itu menjadi kali kedua saya ke sana. Begitu sampai kami langsung bergegas ke Dermaga perahu untuk menuju Kawasan Wisata Rammang-Ramang, harga yang di patok 200K untuk 1-4 orang dan semakin banyak maka semakin murah tapi karena berdua ya mau gak mau tetap bayar 200K merasa lebih private juga daripada gabung dengan rombongan orang lain alih-alih merasa lebih hemat tapi mungkin ngerasa agak canggung. 


Saat perahu mulai jalan, sayapun mengatakan kalau ini tempat ini gak begitu dalam kok dan dia menimpali dengan kata-kata karena terlihat tenang itu biasanya lebih dalam dan ada buaya pikirnya. Dan sayapun mengiyakan sambil mengarahkan telunjuk ke dia wkwkwk 😎


Merapat di Dermaga kami disambut dengan si mbak yang penjaga untuk bayar retribusi sebesar 5K/Orang dan kamipun memulai perjalanan. Sepanjang empang itu ada banyak terdapat ikan yang saya gak pernah perhatikan sebelumnya ternyata bisa hidup di tempat yang banyak terdapat karst nya itu. Dengan semangat menggebu-gebu kami pun sampai di ujung puncak, ya maklum deh saya lagi emang berusaha untuk lebih banyak jalan karena ada target harian juga dari Samsung Health. Ya walaupun saya rasa tidak begitu efektif karena hanya menggunakan Handphone tapi setidaknya ada lah yah. 


Setelah di pikir-pikir emang semakin jauh pemandangan sekeliling biasa saja karena kami datang di musim panas jadinya terasa gersang, tapi yang menarik disini adalah alam Karst nya dan tentu saja cara memotretnya juga sih. Karena hari semakin panas, kami memutuskan untuk berteduh di sebuah tempat yang bisa di sebut sebuah pendopo mungkin dan memesan minuman dingin melepas dahaga sesaat dan kembali turun ke Dermaga I. 



Sekembalinya dari sana, kamipun mampir makan Ikan Bakar di daerah Bandara Lama Sultan Hasanuddin dan kembali ke hotel. 


Berharap akan ada trip selanjutnya setelah ini dalam waktu dekat 😸


Comments

  1. Hi Kak Icha, salam kenal dan kunjungan balik ke sini 😆🤭.

    Pohon di hutan mangrovenya masih kecil atau jembatannya yang tinggi, ya? Sebab dari foto Kakak, kelihatannya pohon mangrovenya masih kecil 😂. Serunya ke wisata alam, jadi bisa menemukan hewan-hewan yang tak disangka-sangka seperti ular itu 🤣.
    Anyway, secuil foto pemandangan di foto terakhir, cukup membuatku terbayang akan pemandangan di sana yang terlihat menarik karena ada bukit-bukit kecil yang menjulang seperti tebing 🤩.
    Semoga Kak Icha bisa segera jalan-jalan lagi ya 🤭

    ReplyDelete
    Replies
    1. daunnya emang kecil-kecil gitu hanya rimbun dan lumayan tinggi sampe bikin parno kalau tiba-tiba ada ular muncul dari dedaunan itu wkwkwkwk.
      Mampir kesini aja kak Lia, ditunggu ya biar aku ajakin jalan.

      Delete
  2. Tahun ini gagal ke Sulawesi, padahal sudah aku rencanakan jauh-jauh hari. Semoga tahun depan bisa ke sini, melihat sedikit destinasi yang ada. Termasuk ke Ramang-ramang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Touring ke Sulawesinya nanti mesti yang lama ya kak biar bisa benar-benar menikmati keindahana P. Sulawesi

      Delete
  3. Halo, kak Icha.
    Maafkeun baru kunbal today.
    Haiyaaah .. pakai (sok) bahasa Inggris segala deh aku ..., hahaha ��.

    Asik cihuuy tuch berduaan berfoto di hutan bakau ..eheuum ..., meski ujung-ujungnya kabooor lihat penampakan ular, wwwkk �� !.

    Lama tak saling kunjung, kabarnya baik kan kak Icha ?.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah sehat kak, kakak gimana kabar? semoga sehat selalu ya kak

      Delete
  4. wahh asyik nih di saat pandemi ini wisata menjadi obat pelipur penat karena jenuh di rumah terus, jalan jalan ke hutan mangrove, ikan bakar, kelapa muda wah mantap betul

    ReplyDelete
    Replies
    1. saking terlalu bosennya emang kak jadinya bikin list yang dekat-dekat aja

      Delete
  5. di saat pandemi kayak gini, jalan ke ruang terbuka memang pilihan yang tepat :D
    Dapat udara segar, pikiran ga stres, dan hati menjadi senang :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. pas pulang ke rumah kepikiran kerjaan besok kak hehehehhe

      Delete
  6. Yg selow2 begini direncanain malah jd yaa mba :D. Asiiiknya ke rammang2. Aku gagal kesana pas ke Makasar dulu. Padahal pengen. Tp jadinya malah ke Malino dan Samalona.

    Hutan mangrovenya banyak spot foto yaa. Dicat warna warni gitu.. beda Ama yg di PIK jembatannya ttp coklat kayu. Tp yg di PIK aja aku blm prnh dtgin walo di JKT mba :D. Duuuh aku merinding juga pas baca yg ulaaar. Aghhhhh, paling takut Ama reptil 1 itu

    ReplyDelete

Post a comment

Popular posts from this blog

Korea Peeling di Arayu Aesthetic Clinic

Kunjungan kedua di Arayu Aesthetic Clinic ini saya akan melakukan peeling. Menurut Dr. Kiki (Dokter Pengganti Dr. Ayu) saya masih halus melakukan chemical peeling kembali, cuma karena saya merasa tidak ada perubahan signifikan sehingga saya meminta untuk melakukan Korean Peeling ini, malah mau yang American Peeling tapi masih belum di sarankan dokter. Ok daripada tidak, jadinya saya melakukan peeling ini. Terupdate 2020 : Balik Perawatan Lagi di Arayu Klinik Cara peelingnya seperti pada umumnya, di pakaikan 3 layer di wajah sembari wajah kayak kesengat perih-perih gimana gitu dan kena kipas akhirnya selesai lah perawatan itu. Dokterpun sudah memberi tahu nanti akan terkelupas wajah di hari ke-3 dan paling lama seminggu prosesnya. Ya so far sama seperti di tempat lainnya yang pernah saya kunjungi. Berikut prosesnya saya jabarkan. Review CO2 Laser di Dr. Ayu   Hari pertama, muka keliatan kusam walaupun udah pakai bedak. Terlebih daerah kening keliatan kering seperti orang k

Review Acne Scar Treatment Selama di Arayu Aesthetic Clinic Makassar

Setelah tahun lalu terakhir saya melakukan perawatan berupa Laser CO2, dan tahun ini dimulai dengan Dermapen. maka saya akan mereview selama melakukan treatment Acne Scar di Klinik Arayu. Totally sudah 3 kali saya melakukan treatment dengan rincian 2 kali untuk Dermapen dan 1 kali untuk Laser CO2. Perbedaan dari Dermapen adalah kulit wajah kita akan dilukai menggunakan alat yang menyerupai pulpen dengan isi jarum dan bekas lukanya berupa bintik-bintik yang dihasilkan dari jarumnya itu. Rasanya seperti apa? Biasa saja apalagi kita telah di anastesi. Hanya yang agak mengganggu wajah kita mengeluarkan darah dan harus menunggu keesokan harinya baru di bilas maka akan terasa gatal dan juga sedikit perih setelah anastesi hilang. Tapi itu cuma beberapa jam saja. Yang pasti wajah menjadi merah. Fungsi dermapen ini adalah membentuk jaringan baru dengan cara di lukai. Sedangkan Laser CO2, adalah laser yang merangsang kolagen rasanya juga cuma cekit-cekit saja apalagi sebelumnya wajah ki

Review : Obat Sakit Gigi Cap Burung Kakaktua

Nanya kedua orang yang terpecaya hanya untuk tanya obat sakit gigi apa dan keduanya merekomendasikan Obat Sakit Gigi Cap Burung Kakaktua ini. Baunya? Jangan di tanya deh. Semriwing gimana gitu deh. Dan kalau kita agak tekan akan merasakan rasa cukup pedes gitu. Dan mengingatkan saya pada obat yang pernah di kasih dokter pada saat di tambal dulu. Entah lah. Cara pakainya cukup mudah, cukup kita menaruh kapas yang sudah di kasihkan minyak ke gigi berlubang dan diamkan selama 5 menit. Kalau di rasa perlu, tinggal di ulangi saja. Apakah bekerja? Di gigi saya ini bekerja sih walaupun 2x penggunaan baru merasa enakan. Cuma yang di akar gigi masih berasa cenat cenut. So far saya merasa kurang nendang dengan produk ini. Yang sudah coba produk ini, kasih komentar dong. Reaksinya seperti apa?