Skip to main content

Traveling Jogja 3 Days 2Nights



Traveling ke Jogja kali ini emang termasuk nekat dan ngebet banget. Meski duitnya pas-pasan.

Tiba di Jogja sore hari langsung cek in hotel, berasa capek sih karena sama dengan di Makassar untuk taksi online tidak bisa masuk ke dalam Bandara jadi penumpang harus jalan cukup jauh agar bisa di jemput. Minimal di dekat lampu merah atau kantor imigrasi. Catatan buat yang baru datang hati-hati yang nawarin ojek karena kemarin mahal. Ya kalau emang duit lebih, ya why not.

Pas nyampe hotel, oh iya hotel aku All Stay tempatnya dekat Amplaz a.k.a Ambarukmo Plaza jadi setelah cek-in mandi terus keluar ke sana buat makan malam. Pulang dari sana, udah tepar duluan. Malam sebelumnya udah ngerjain PR dan begadang jadinya ngantuk berat sampai telpon dari fotographer sudah tidak terangkat lagi.

Besoknya ketemu sama fotographer di hotel janjian buat jalan ke Kalibiru dan sekitarnya. Disini saya menggunakan jasa teman ke teman jadilah ketemu sama mas nya ini. Harga yang di tawarkan cukup affordable karena udah include dengan biaya foto dan transportasi.

Awalnya kita ke Kalibiru jalan yang di lalui cukup jauh juga menurut saya dan jalanannya kurang bagus jadi memakan waktu yang cukup lama. Setelah disana sekitar sejam dan penuh keringetan yang super gak nyante,kita move ke objek air terjun selanjutnya. Perjalanannya mirip-mirip ke Kalibiru, sampai di sana kita mesti mendaki lagi. Please yang baru pertama kali datang bagus banget kalau kalian pemanasan dulu, karena tempatnya beneran jauh dengan kondisi jalanan menanjak. Puas foto-foto main air bentaran. 


Cukup memakan waktu untuk ke kedua tempat ini, jadi selesainya sorean dikit terus balik ke kota dan belanja oleh-oleh dulu. Baru deh kembali cek in ke hotel berbeda. Beberes di kamar malamnya jalan ke Malioboro. Disini gak sempat foto karena super rame,u know lah yah itu tempat iconic di Jogja dan udah sendirian, fotographernya udah ninggalin jadi ngerasa mesti lebih waspada. Tapi ada benarnya juga deh kata temanku, kalau kota lain itu bisa sama persis dengan yang kita kunjungi. Miriplah Malioboro dengan Losari. Itu juga menurut aku lagi. Abis dari situ pulang terus tidur. Langsung berasa pegeulnya numpuk di betis pagi harinya.

Dan di last day, hasil googling menunjukkan tempat terdekat dengan hotel yaitu ke Taman Sari dan  Kraton Sultan. Kalau dari Cube Hotel cuma butuh 4k aja untuk ke sana, sedangkan untuk becak lebih mahal lagi. Tapi yang ingin santai dan menghabiskan waktu serta kena angin sepoi-sepoi bisa memilih transportasi ini. 

Taman Sari

Untuk di Taman Sari cuma butuh 5K untuk uang tiket masuk dan kalian bisa keliling sepuasnya, ada baiknya kalian menyewa pemandu karena mereka lebih tau history dari tempat ini. Bayarnya secara sukarela,kalau saya bayar 30k karena kami berdua. Pemandunya juga ngasih tau spot-spot foto yang bagus. Jadi gak rugi deh ambil pemandu disini. Setelah dari Taman Sari, saya mengunjungi Kraton yang letaknya juga tidak kalah dekatnya, untuk biaya masuk 7,5K dan biaya kamare / HP sebesar 1K. Disini saya juga memakai jasa pemandu. Kalau kesini saya merasa lebih wajib memakai jasanya karena disetiap tempat itu masih kurang kita pahami sejarahnya. Bahkan saya diajak ke tempat pembuatan batik yang ada di belakang rumah Sultan Hamengkubuwono X (menurut info pemandu). 

Kesultanan
Pulang dari sana,cek out dulu karena mas Gojek ngasih tau kalau tempat yang saya akan tuju cukup jauh sedangkan saya harus ke Bandara untuk balik ke Makassar. Kemudian saya beranjak ke Upside Down untuk foto ala-ala serba terbalik. Cukup seru karena kita ditemenin sama pemandunya juga, jadi sekalipun sendiri tidak perlu takut gak dapat foto yang gk OK, serahin ke ahlinya deh.

UpSide Down

Sekianlah perjalanan saya ke Jogja. I'm so happy, kenal dengan budaya baru, orang baru, tempat baru, sayangnya bukan pasangan baru

Comments

  1. Jogja, kota yang selalu membuat kangen. kok bisa gitu yah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, Saya baru satu kali ke Jogja dan masih kangen ke sana lagi

      Delete
  2. Kalau travelling ke jogja minimum budgetnya berapa kak? Jadi pengen jalan-jalan ke sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pas-pas banget itu 3jt sudah sama oleh-oleh.

      Delete
  3. Pernah kejogja juga dan waktu itu masih belum menikah, berkunjung ke taman sari. Emang banyak spot spot terbaik untuk foto ya kak, pertama kali belajar nge batik juga di jogja 🙈

    ReplyDelete
  4. Saya pertama kali ke Jogja tahun 1996 dan sejak itu udah gak pernah.

    Harus ke sana lagi nih kapan-kapan!

    ReplyDelete
  5. upside downnya antimainstream yah hahaha, saya juga kepengen journey di Jogja, banyak tempat wisatanya dan kulinernya gak mahal-mahal amat. Wish it come true

    ReplyDelete
  6. Satu kata. Kangen. Ingin kembali ke Jogja dan menikamti keramahan dan budayanya.

    ReplyDelete
  7. Icha, bayar pemandunya 30 ribu karena kalian berdua. Kalo sendiri bisa 15 ribu, maksudnya?

    Bawa fotografer ada pemotretan apa, Icha?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayak seikhlasnya saja kak mau bayar berapa.

      Fotographernya untuk menangkap momen bagus. Hehehehe. Fotographer merangkap driver merangkap guide

      Delete
  8. Sepertinya moda transfortasi becak bisa menjadi solusi untuk menikmati sebagian wilayah jogja ya. Walaupun sedikit mahal dari transportasi lainnya, tpi saya rasa mata bisa dimanjakan dengan pemandangan alam jogja

    ReplyDelete
  9. Sepertinya taman sari bagus yah kak apalagi spot fotonya instagramable wkwk😍 tapi kalo ke Jogja tentu saja yang diburu pertama kali adalah bakpia pathok..

    ReplyDelete
  10. Saya belum pernah ke Jogja. Baca komen-komen di atas katanya Jogja ngangenin. Hmmm..benarkah? Coba nanti saya buktikan kalau sudah ke sana. Hahaha.

    Tapi sejauh ini sih kota yang bikin kangen itu ya Makassar. Hiks, kangen sama coto, palbas serigala, mie titi, sop saudara.

    Eh malah bahas Makassar. Hahaha

    ReplyDelete
  11. Biasanya sekali ke Jogja pengen balik lagiiii, Saya rasanya begitu. Kotanya bikin kangen. Berkali-kali ke Sana tapi selalu bikin oengen balik lagi

    ReplyDelete

Post a comment

Popular posts from this blog

Korea Peeling di Arayu Aesthetic Clinic

Kunjungan kedua di Arayu Aesthetic Clinic ini saya akan melakukan peeling. Menurut Dr. Kiki (Dokter Pengganti Dr. Ayu) saya masih halus melakukan chemical peeling kembali, cuma karena saya merasa tidak ada perubahan signifikan sehingga saya meminta untuk melakukan Korean Peeling ini, malah mau yang American Peeling tapi masih belum di sarankan dokter. Ok daripada tidak, jadinya saya melakukan peeling ini. Terupdate 2020 : Balik Perawatan Lagi di Arayu Klinik Cara peelingnya seperti pada umumnya, di pakaikan 3 layer di wajah sembari wajah kayak kesengat perih-perih gimana gitu dan kena kipas akhirnya selesai lah perawatan itu. Dokterpun sudah memberi tahu nanti akan terkelupas wajah di hari ke-3 dan paling lama seminggu prosesnya. Ya so far sama seperti di tempat lainnya yang pernah saya kunjungi. Berikut prosesnya saya jabarkan. Review CO2 Laser di Dr. Ayu   Hari pertama, muka keliatan kusam walaupun udah pakai bedak. Terlebih daerah kening keliatan kering seperti orang k

Review Acne Scar Treatment Selama di Arayu Aesthetic Clinic Makassar

Setelah tahun lalu terakhir saya melakukan perawatan berupa Laser CO2, dan tahun ini dimulai dengan Dermapen. maka saya akan mereview selama melakukan treatment Acne Scar di Klinik Arayu. Totally sudah 3 kali saya melakukan treatment dengan rincian 2 kali untuk Dermapen dan 1 kali untuk Laser CO2. Perbedaan dari Dermapen adalah kulit wajah kita akan dilukai menggunakan alat yang menyerupai pulpen dengan isi jarum dan bekas lukanya berupa bintik-bintik yang dihasilkan dari jarumnya itu. Rasanya seperti apa? Biasa saja apalagi kita telah di anastesi. Hanya yang agak mengganggu wajah kita mengeluarkan darah dan harus menunggu keesokan harinya baru di bilas maka akan terasa gatal dan juga sedikit perih setelah anastesi hilang. Tapi itu cuma beberapa jam saja. Yang pasti wajah menjadi merah. Fungsi dermapen ini adalah membentuk jaringan baru dengan cara di lukai. Sedangkan Laser CO2, adalah laser yang merangsang kolagen rasanya juga cuma cekit-cekit saja apalagi sebelumnya wajah ki

Review : Obat Sakit Gigi Cap Burung Kakaktua

Nanya kedua orang yang terpecaya hanya untuk tanya obat sakit gigi apa dan keduanya merekomendasikan Obat Sakit Gigi Cap Burung Kakaktua ini. Baunya? Jangan di tanya deh. Semriwing gimana gitu deh. Dan kalau kita agak tekan akan merasakan rasa cukup pedes gitu. Dan mengingatkan saya pada obat yang pernah di kasih dokter pada saat di tambal dulu. Entah lah. Cara pakainya cukup mudah, cukup kita menaruh kapas yang sudah di kasihkan minyak ke gigi berlubang dan diamkan selama 5 menit. Kalau di rasa perlu, tinggal di ulangi saja. Apakah bekerja? Di gigi saya ini bekerja sih walaupun 2x penggunaan baru merasa enakan. Cuma yang di akar gigi masih berasa cenat cenut. So far saya merasa kurang nendang dengan produk ini. Yang sudah coba produk ini, kasih komentar dong. Reaksinya seperti apa?